Sarolangun, 31 Agustus 2026 – elangnusantara.com — Konflik di kawasan perkebunan kelapa sawit kembali mencoreng wajah Kabupaten Sarolangun. Kali ini, kericuhan terjadi antara sejumlah anggota TNI dengan warga dari kelompok Suku Anak Dalam (SAD) di area perkebunan PT Sari Aditya Loka (SAL), Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam.
Peristiwa yang terjadi Jumat (28/8/2026) sekitar pukul 11.30 WIB itu bermula dari dugaan pengambilan tandan buah segar (TBS) sawit oleh sejumlah warga. Anggota TNI yang sedang melakukan patroli kemudian mendokumentasikan kejadian tersebut.
Menurut keterangan Danrem 042/Garuda Putih Brigjen TNI Nyamin, warga yang tidak terima direkam kemudian berusaha merebut telepon genggam milik anggota TNI. Perselisihan pun pecah dan berkembang menjadi aksi penyerangan.
Situasi kemudian memanas. Dalam video yang beredar, sejumlah anggota TNI terlihat mendapatkan pukulan dan tendangan. Bahkan terdapat ancaman menggunakan senjata tajam. Salah seorang anggota sempat terjatuh ke semak-semak sebelum akhirnya dievakuasi oleh rekan-rekannya.
Akibat kejadian tersebut, anggota TNI mengalami luka memar. Danrem memastikan kondisi di lokasi telah kembali kondusif setelah dilakukan mediasi bersama pemerintah daerah, kepolisian, TNI dan pihak terkait.
Perkembangan terbaru menunjukkan proses hukum mulai berjalan. Lima warga SAD dari kelompok Air Panas telah menyerahkan diri ke Polres Sarolangun pada Minggu (30/8) sore.
Kelima warga tersebut berinisial R, D, W, Rn dan J. Mereka datang didampingi Bhabinkamtibmas, Babinsa, tokoh masyarakat, Temenggung Nangkus dan Jenang Jalaludin.
Polisi menyatakan perkara tersebut akan diproses secara profesional, objektif dan berdasarkan alat bukti. Sejumlah saksi dari pihak TNI AD Yonif TP-896/Serumpun Pseko juga telah diperiksa.
Kapolres Sarolangun AKBP Wendi Oktariansyah meminta masyarakat tidak mengambil tindakan sendiri dan tidak mudah terprovokasi informasi yang belum teruji.
Peristiwa ini seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang menyerang dan siapa yang diserang.
Ada persoalan yang jauh lebih besar: mengapa konflik antara masyarakat adat dan kawasan perkebunan terus berulang?
Hubungan antara SAD dan aktivitas perkebunan sawit di Air Hitam bukan persoalan baru. Pada April 2026, konflik serupa juga pernah terjadi di kawasan PT SAL. Saat itu, persoalan berkaitan dengan pengambilan buah sawit, keamanan perusahaan dan tuntutan masyarakat SAD terkait tanah adat. Konflik bahkan sempat berujung bentrokan dan korban luka.
Artinya, insiden terbaru bukanlah persoalan yang muncul dari ruang kosong.
Ada sejarah ketegangan yang belum sepenuhnya selesai.
Jika setiap persoalan tanah, sawit, keamanan dan masyarakat adat hanya diselesaikan setelah terjadi bentrokan, maka negara akan selalu datang ketika api sudah membesar.
Suku Anak Dalam tidak boleh digeneralisasi sebagai kelompok kriminal hanya karena ulah sejumlah oknum. Begitu pula tindakan kekerasan terhadap aparat tidak boleh dibenarkan atas alasan apa pun.
Namun pada saat yang sama, akar persoalan juga harus dibongkar: soal batas lahan, status tanah adat, akses ekonomi, tata kelola perkebunan, pola pengamanan perusahaan hingga mekanisme penyelesaian konflik masyarakat adat.
Sebab jika akar masalah dibiarkan, hari ini mungkin hanya telepon genggam yang direbut.
Dan ketika konflik kembali meledak, semua pihak baru sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.
Masyarakat emandang, Sarolangun tidak membutuhkan konflik baru. Yang dibutuhkan adalah keberanian membuka akar persoalan dan menyelesaikannya secara adil, transparan, serta bermartabat.
Karena sawit boleh menjadi sumber ekonomi.
Tetapi jangan sampai sawit menjadi alasan masyarakat saling berhadapan.
Sumber utama: DetikSumbagsel — Kronologi TNI Diserang SAD di Sarolangun dan perkembangan penanganan perkara dari ANTARA News Jambi.











