Jakarta, 16 Agustus 2026 – elangnusantara.com — Bawang memang bisa membuat mata menangis. Tapi kali ini, bukan karena pedasnya bawang. Publik dibuat berkaca-kaca setelah mendengar pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut penghasilan dari pekerjaan mengupas bawang bisa mencapai Rp700 ribu per kilogram.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato kenegaraan pada Jumat (14/8/2026), ketika Prabowo memperkenalkan seorang pekerja pengupas bawang.
Sejak pernyataan itu beredar, media sosial pun ramai.
Kalau benar mengupas bawang bisa menghasilkan Rp700 ribu per kilogram, mungkin sebagian masyarakat mulai berpikir untuk meninggalkan pekerjaan kantoran.
Sarjana menganggur: “Buka lowongan kupas bawang, Pak!”
Bawang Naik Kelas
Selama ini bawang dikenal sebagai salah satu bahan dapur yang membuat ibu-ibu harus menghitung ulang isi dompet.
Namun setelah pernyataan tersebut, bawang seolah naik kelas.
Dulu orang bertanya, “Berapa harga bawangnya?”
Sekarang mungkin pertanyaannya berubah menjadi:
“Berapa upah ngupasnya?”
Bayangkan saja, kalau seseorang mampu mengupas satu kilogram bawang setiap hari dan benar-benar menerima Rp700 ribu, dalam sebulan penghasilannya bisa mencapai sekitar Rp21 juta jika bekerja 30 hari.
Angka yang mungkin membuat sebagian pekerja bergaji UMR spontan menatap bawang di dapur dengan penuh harapan.
“Ternyata selama ini jalan menuju kesejahteraan ada di bawah kulit bawang.”
Presiden Bicara, Netizen Mengupas
Pernyataan tersebut kemudian dikupas netizen lebih teliti daripada mengupas bawang.
Ada yang mempertanyakan konteks angka Rp700 ribu tersebut. Apakah benar merupakan upah per kilogram? Apakah berdasarkan sistem borongan? Berapa kilogram yang mampu dikupas dalam sehari? Dan apakah angka tersebut berlaku umum atau hanya pada kondisi tertentu?
Pertanyaan itu wajar.
Sebab kalau angka tersebut berlaku luas, pemerintah sebenarnya tidak perlu terlalu pusing memikirkan lapangan pekerjaan.
Cukup buka program nasional:
“Gerakan 1 Juta Pengupas Bawang Indonesia.”
Kartu Prakerja bisa diganti Kartu Pengupas Bawang.
Pelatihannya sederhana:
Hari pertama: pegang bawang.
Hari kedua: kupas bawang.
Hari ketiga: menangis bersama.
Pedagang Bisa Ikut Menangis
Yang menarik, angka Rp700 ribu per kilogram juga membuat sebagian pelaku usaha dan pedagang bertanya-tanya.
Sebab kalau ongkos mengupas saja Rp700 ribu, maka kita perlu bertanya:
Bawangnya mau dijual berapa?
Kalau harga bawangnya kalah murah dibanding ongkos mengupas, jangan-jangan konsumen nantinya membeli bawang bukan lagi berdasarkan kilogram.
Tapi berdasarkan kemampuan mencicil.
“Bu, bawangnya satu kilogram.”
“Tunai atau KPR?”
Jangan Sampai Rakyat Salah Menangkap Pesan
Di balik satire tersebut, ada persoalan serius yang sebenarnya perlu dijelaskan pemerintah.
Pernyataan seorang Presiden dalam forum kenegaraan tentu memiliki bobot berbeda dengan obrolan warung kopi.
Ketika angka Rp700 ribu disebut, masyarakat berhak mengetahui konteksnya secara lengkap.
Karena kalau tidak dijelaskan, publik bisa saja menganggap bahwa mengupas bawang merupakan profesi dengan pendapatan fantastis.
Sementara di lapangan, banyak pekerja masih bergulat dengan upah rendah, harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan dan biaya hidup yang terus meningkat.
Jadi, yang perlu dikupas bukan cuma bawangnya. Konteks angkanya juga harus dikupas sampai bersih.
Jangan sampai bawangnya sudah dikupas, tetapi informasinya masih berlapis-lapis.
Dan kalau benar ada pekerjaan mengupas bawang dengan bayaran Rp700 ribu per kilogram, mungkin sudah waktunya pemerintah memasukkan profesi tersebut ke dalam program strategis nasional.
Karena bisa jadi masa depan ekonomi Indonesia bukan di balik meja kantor.
Catatan: angka Rp700 ribu per kilogram dalam tulisan ini merujuk pada pernyataan yang disampaikan Presiden Prabowo dan menjadi bahan perbincangan publik. Konteks mekanisme serta dasar perhitungannya perlu dijelaskan lebih lanjut agar tidak menimbulkan persepsi keliru.











