Jakarta, 16 Agustus 2026 – elangnusantara.com — Gagasan Rocky Gerung tentang “akal sehat” kembali menarik perhatian. Bukan semata karena kritiknya terhadap politik dan kekuasaan, tetapi karena konsep tersebut dapat dibaca lebih jauh sebagai ajakan untuk menggunakan nalar secara jernih dalam memahami kehidupan, termasuk hubungan manusia dengan Tuhan.
Dalam tulisan opini yang dimuat SINDOmakassar pada 12 Juni 2025, pemikiran Rocky Gerung dibaca dalam perspektif filsafat, spiritualitas, dan kebebasan berpikir. Rocky digambarkan sebagai sosok yang kerap mengkritik agama dan identitas keagamaan, tetapi tidak serta-merta ditempatkan sebagai penolak keberadaan Tuhan.
Istilah “akal sehat” yang sering digunakan Rocky dipandang bukan sekadar kemampuan membedakan sesuatu yang masuk akal dan tidak masuk akal.
Lebih jauh, akal sehat dipahami sebagai akal yang jernih—nalar yang tidak mudah dikendalikan oleh kepentingan kekuasaan, ketakutan, fanatisme maupun dogma.
Dalam kerangka tersebut, manusia didorong untuk berani bertanya, meragukan, menguji dan mengambil kesimpulan berdasarkan kesadaran sendiri.
Pandangan itu kemudian dikaitkan dengan tradisi filsafat yang menempatkan akal sebagai instrumen penting dalam pencarian kebenaran. Tulisan tersebut menyebut pemikiran Al-Farabi, Ibnu Sina, Descartes hingga Immanuel Kant sebagai bagian dari tradisi intelektual yang memberikan ruang besar bagi rasionalitas dan pencarian kebenaran.
Agama, suku, kelompok, organisasi bahkan pilihan politik pada dasarnya dapat menjadi bagian dari identitas seseorang. Namun, identitas bisa berubah menjadi persoalan ketika seseorang menjadikannya sebagai jawaban final dan berhenti mempertanyakan sesuatu.
Dalam pembacaan terhadap gagasan Rocky, manusia justru diajak keluar dari jebakan tersebut.
Beragama tidak cukup hanya menjadi persoalan administratif atau simbol sosial. Sebaliknya, keberagamaan seharusnya tetap memberi ruang bagi pencarian makna, refleksi dan pertanyaan tentang kebenaran.
Dalam salah satu pernyataannya yang dikutip tulisan tersebut, Rocky menggunakan ungkapan Latin “vox populi, vox dei”, yang secara umum berarti “suara rakyat, suara Tuhan”. Pernyataan itu kemudian dibaca dalam konteks hubungan antara kehendak rakyat, demokrasi dan tanggung jawab manusia dalam menentukan arah kehidupan bersama.
Namun, gagasan tersebut tentu dapat menimbulkan perdebatan. Sebab, hubungan antara kehendak rakyat dan kehendak Tuhan merupakan wilayah filsafat, politik sekaligus teologi yang memiliki banyak tafsir.
Karena itu, pernyataan Rocky lebih tepat dipahami sebagai pemantik diskusi ketimbang kesimpulan tunggal mengenai hubungan agama dan demokrasi.
Sejumlah pernyataan Rocky mengenai agama dan kitab suci juga kerap memunculkan kontroversi.
Dalam tulisan SINDOmakassar, pernyataan-pernyataan tersebut ditafsirkan sebagai kritik terhadap cara manusia memperlakukan teks keagamaan secara kaku, bukan semata-mata sebagai penolakan terhadap nilai spiritualnya.
Apakah berpikir kritis bertentangan dengan iman?
Ataukah justru manusia membutuhkan akal untuk memahami iman secara lebih mendalam?
Pertanyaan semacam itu tidak memiliki jawaban sederhana. Bagi sebagian orang, akal dan iman dapat berjalan beriringan. Bagi yang lain, terdapat batas-batas tertentu antara rasionalitas dan wilayah keyakinan.
Akal Sehat sebagai Panggilan untuk Berpikir
Pada akhirnya, “akal sehat” ala Rocky Gerung dapat dibaca sebagai kritik terhadap kebiasaan manusia menerima sesuatu secara mentah.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak mudah tunduk kepada narasi yang dibangun oleh kekuasaan, kelompok mayoritas maupun tokoh yang dianggap memiliki otoritas.
Dalam konteks politik, pesan tersebut menjadi semakin relevan. Demokrasi membutuhkan masyarakat yang mampu berpikir kritis, tetapi juga bertanggung jawab terhadap konsekuensi dari setiap gagasan dan tindakan.
Dengan demikian, gagasan “akal sehat” tidak harus ditempatkan sebagai lawan dari spiritualitas. Ia dapat menjadi ruang dialog antara nalar, kebebasan berpikir, moralitas dan pencarian makna.
Namun, apakah akal benar-benar dapat menjadi jalan menuju Tuhan?
Jawabannya kembali kepada wilayah keyakinan masing-masing.
Yang jelas, satu hal yang sulit dibantah: manusia yang berhenti berpikir akan lebih mudah menerima apa pun sebagai kebenaran.
Dan mungkin di situlah “akal sehat” ala Rocky menemukan relevansinya—bukan untuk memaksa orang meninggalkan iman, melainkan untuk mengajak manusia berani bertanya sebelum mengklaim telah menemukan kebenaran.
elangnusantara.com — Berpikir kritis bukan berarti kehilangan iman. Begitu pula beriman tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berpikir.











