Jakarta, 16 Agustus 2026 – elangnusantara.com — Pemerintah kembali menyerukan pentingnya menjaga perdamaian di Aceh dan situasi keamanan yang kondusif di Papua. Di tengah dinamika sosial-politik yang masih berkembang, seluruh pihak diminta tidak mudah terprovokasi dan mengedepankan dialog dalam menyelesaikan setiap persoalan.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago menegaskan bahwa perdamaian yang telah terbangun di Aceh merupakan capaian penting yang harus dijaga bersama.
Menurutnya, perbedaan pandangan dan penyampaian aspirasi merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan tersebut tetap harus berjalan dalam koridor hukum dan tidak berubah menjadi kekerasan ataupun tindakan yang dapat mengganggu ketertiban umum.
Aceh: Perdamaian Jangan Dikorbankan
Pemerintah juga menaruh perhatian terhadap dinamika yang muncul di Aceh, termasuk persoalan penggunaan simbol-simbol tertentu.
Menko Polkam menegaskan bahwa simbol negara seperti Bendera Merah Putih dan Garuda Pancasila memiliki kedudukan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Namun, setiap dugaan pelanggaran tetap harus diperiksa secara objektif. Aparat diminta tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum seluruh fakta di lapangan diperiksa secara menyeluruh.
“Jangan sampai persoalan simbol kemudian berkembang menjadi konflik yang lebih besar,” menjadi pesan penting pemerintah dalam menjaga suasana Aceh tetap damai.
Perdamaian Aceh, yang lahir dari proses panjang dan sejarah konflik yang tidak ringan, dinilai terlalu mahal untuk dipertaruhkan hanya karena perbedaan kepentingan atau provokasi sesaat.
Papua Jangan Dibiarkan Memanas
Sementara di Papua, pemerintah meminta seluruh elemen masyarakat menahan diri.
Penyampaian aspirasi tetap merupakan hak masyarakat. Tetapi aspirasi, menurut pemerintah, harus disampaikan secara damai dan tidak disertai tindakan anarkis, kekerasan, perusakan maupun provokasi.
Pemerintah juga menyayangkan terjadinya kericuhan yang menyebabkan sejumlah aparat mengalami luka.
Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa ketegangan yang tidak segera diredam dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih besar dan pada akhirnya masyarakat juga yang menanggung dampaknya.
Negara Harus Hadir, Masyarakat Harus Tetap Tenang
Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI dan Polri terus dilakukan untuk menjaga stabilitas keamanan di Aceh maupun Papua.
Di sisi lain, masyarakat diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama informasi yang berpotensi memperkeruh suasana.
Elangnusantara.com mencatat, menjaga kondusivitas bukan berarti membungkam kritik. Sebaliknya, negara perlu memastikan ruang demokrasi tetap terbuka, sementara masyarakat juga memiliki tanggung jawab menyampaikan aspirasi tanpa kekerasan.
Aceh telah melewati perjalanan panjang menuju perdamaian. Papua pun membutuhkan pendekatan yang mengedepankan keamanan masyarakat, keadilan, dialog dan penghormatan terhadap hak warga negara.
Sebab, ketika provokasi dibiarkan tumbuh, yang pertama kali menjadi korban bukan mereka yang berada jauh dari konflik, melainkan masyarakat biasa yang hanya ingin hidup aman dan tenang.
Perdamaian harus dijaga sebelum terlambat. Kondusivitas bukan sekadar slogan, tetapi tanggung jawab bersama.
Elangnusantara.com — Tajam Mengawal Fakta, Berpihak pada Kepentingan Publik.











