Menu

Mode Gelap
Setelah NTT dan Sumut, Giliran Sulteng Diguncang Gempa Berkekuatan M 5,9 Gurita Tambang PETI Merangin di Tengah Penertiban, Nama Idris Jadi Perbincangan Unit Tipidter Polres Merangin Amankan Dua Terduga Pelaku PETI di Talang Kawo Bupati Merangin M Syukur Minta Polisi Usut Tuntas Aktivitas PETI di Atas Aset Pemkab Iran Tepis Trump Soal Klaim Selat Hormuz Wilayah AS: Akan Tetap Milik Iran! Empat Anak Michael Hartono Disebut Terima Warisan Saham Rp52,3 Triliun per Orang

Jambi

Setelah NTT dan Sumut, Giliran Sulteng Diguncang Gempa Berkekuatan M 5,9

badge-check


					Setelah NTT dan Sumut, Giliran Sulteng Diguncang Gempa Berkekuatan M 5,9 Perbesar

Sulawesi Tengah, 16 Agustus 3026 – elangnusantara.com — Setelah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sumatera Utara diguncang gempa kuat pada Sabtu (15/8/2026), giliran wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng) merasakan guncangan gempa bumi dengan magnitudo 5,9.

Gempa mengguncang kawasan Teluk Tomini pada Minggu dini hari, 16 Agustus 2026 sekitar pukul 00.25 WITA. Episenter gempa berada di laut, sekitar 71 kilometer barat daya Parigi Moutong, dengan kedalaman 60 kilometer.

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut berada pada koordinat 0,26 derajat Lintang Utara dan 120,25 derajat Bujur Timur.

Guncangan dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah. Di Tinombo dan Dampelas, intensitas gempa mencapai skala V MMI. Sementara Kota Parigi, Donggala, Tolitoli hingga Palu merasakan getaran pada skala IV MMI. Adapun wilayah Sigi Biromaru merasakan guncangan pada skala III MMI.

BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Gempa disebut berkaitan dengan deformasi di dalam lempeng Laut Sulawesi dengan mekanisme pergerakan oblique thrust.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan, gempa Sulteng memiliki karakteristik berbeda dengan gempa yang terjadi sebelumnya di NTT maupun Sumatera Utara.

Dalam penjelasan BMKG, gempa NTT berkekuatan M 7,7 dipicu aktivitas Sesar Back Arc Thrust Flores. Sementara gempa Simalungun, Sumatera Utara, berkekuatan sekitar M 6,4 berkaitan dengan proses subduksi Lempeng Indo-Australia.

Sedangkan gempa Parigi Moutong terjadi akibat deformasi kompresi di dalam lempeng Laut Sulawesi.

BMKG menegaskan ketiga gempa tersebut tidak memiliki korelasi langsung dan tidak saling memicu karena berada pada sistem sumber serta tatanan tektonik yang berbeda. Fenomena gempa yang terjadi dalam rentang waktu berdekatan tersebut disebut sebagai seismic clustering atau klasterisasi seismik. (detiknews)

Hingga informasi terbaru diterima, BMKG terus melakukan pemantauan terhadap kemungkinan gempa susulan dan perkembangan aktivitas seismik di wilayah tersebut.

Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Warga juga diminta mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG maupun pemerintah daerah.

Peristiwa gempa yang terjadi hampir bersamaan di sejumlah wilayah Indonesia tersebut kembali menjadi pengingat bahwa Indonesia berada di kawasan dengan aktivitas tektonik yang tinggi.

Kesiapsiagaan masyarakat, pemahaman terhadap jalur evakuasi, serta kecepatan memperoleh informasi resmi menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko ketika bencana gempa kembali terjadi.

elangnusantara.com — Independen, Kritis, dan Berimbang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Gurita Tambang PETI Merangin di Tengah Penertiban, Nama Idris Jadi Perbincangan

15 Agustus 2026 - 09:01 WIB

Unit Tipidter Polres Merangin Amankan Dua Terduga Pelaku PETI di Talang Kawo

15 Agustus 2026 - 08:52 WIB

Bupati Merangin M Syukur Minta Polisi Usut Tuntas Aktivitas PETI di Atas Aset Pemkab

15 Agustus 2026 - 08:44 WIB

Iran Tepis Trump Soal Klaim Selat Hormuz Wilayah AS: Akan Tetap Milik Iran!

15 Agustus 2026 - 08:36 WIB

Empat Anak Michael Hartono Disebut Terima Warisan Saham Rp52,3 Triliun per Orang

15 Agustus 2026 - 02:10 WIB

Trending di Jambi