Menu

Mode Gelap
Kontradiksi Pengibaran Bendera di Gentala Arasy, Irwanda: Jangan Terjebak Seremoni, Penderitaan Terjadi di Sepanjang Sungai Batanghari Akal Sehat ala Rocky Gerung: Ketika Nalar Dijadikan Jalan Mencari Tuhan Menko Polkam Minta Semua Pihak Tahan Diri, Aceh dan Papua Harus Tetap Kondusif Kupas Bawang Rp700 Ribu Sekilo: Bawangnya yang Mahal atau Logika Kita yang Pedas? Kemarau Makin Mengkhawatirkan, Jambi Harus Mulai Menyimpan Air Sebelum Krisis Datang Iko Uwais Dipanggil Jackie Chan Jadi Juri Film, Kiprah Aktor Indonesia Makin Mendunia

Jambi

Kemarau Makin Mengkhawatirkan, Jambi Harus Mulai Menyimpan Air Sebelum Krisis Datang

badge-check


					Kemarau Makin Mengkhawatirkan, Jambi Harus Mulai Menyimpan Air Sebelum Krisis Datang Perbesar

Jambi, 16 Agustus 2026 – elangnusantara.com — Musim kemarau yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah Provinsi Jambi menjadi peringatan serius tentang pentingnya pengelolaan sumber daya air. Hujan yang semakin jarang, suhu udara yang meningkat, serta kebutuhan air yang terus bertambah membuat masyarakat dan pemerintah perlu mengambil langkah antisipasi sebelum persoalan berkembang menjadi krisis.

Kondisi kemarau tidak semata-mata persoalan berkurangnya hujan. Ketahanan Jambi menghadapi musim kering juga sangat ditentukan oleh bagaimana kawasan hutan, daerah resapan, sungai, lahan gambut, serta ruang terbuka dikelola.

Dalam sebuah tulisan yang dimuat InfoJambi pada Minggu (16/8/2026), akademisi Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Muhammad Hakiem Sedo Putra, menyoroti pentingnya perubahan cara pandang dalam menghadapi kemarau.

Menurutnya, fenomena iklim seperti El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) dapat memperkuat kondisi kering. Namun, tingkat kerentanan suatu daerah terhadap kekeringan juga dipengaruhi oleh tata kelola air dan tata ruang.

Sungai Batanghari menjadi salah satu penyangga utama kehidupan masyarakat Jambi. Namun, keberlangsungan sungai tersebut tidak hanya ditentukan oleh kondisi badan sungai.

Kerusakan kawasan hulu, berkurangnya daerah resapan dan menurunnya tutupan vegetasi dapat mengganggu keseimbangan tata air.

Ketika musim hujan, air yang seharusnya tersimpan di dalam tanah justru lebih banyak menjadi limpasan. Sebaliknya, ketika kemarau datang, cadangan air tanah menjadi semakin cepat berkurang.

Karena itu, menjaga Batanghari tidak cukup hanya dengan membersihkan sungai.

Menjaga Batanghari berarti menjaga seluruh kawasan yang menjadi pemasok airnya.

Ketika muka air tanah gambut turun terlalu rendah, lahan menjadi kering dan jauh lebih mudah terbakar. Artinya, persoalan kebakaran hutan dan lahan tidak dapat dipisahkan dari persoalan tata kelola air.

Selama ini pencegahan karhutla kerap berfokus pada patroli, pemantauan titik api dan pemadaman.

Padahal, upaya yang jauh lebih mendasar adalah memastikan gambut tetap memiliki kandungan air yang cukup.

Menjaga muka air gambut bukan hanya persoalan konservasi, tetapi juga bagian penting dari strategi pencegahan karhutla.

Pertumbuhan permukiman, pembangunan jalan dan berbagai infrastruktur menyebabkan semakin banyak permukaan tanah berubah menjadi kawasan kedap air.

Pada musim hujan, kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi genangan dan banjir. Sementara ketika kemarau tiba, berkurangnya infiltrasi membuat cadangan air tanah tidak optimal.

Ironisnya, banjir dan kekeringan dapat memiliki akar persoalan yang sama: buruknya pengelolaan air.

Karena itu, air hujan perlu dipandang sebagai cadangan, bukan semata-mata sesuatu yang harus segera dibuang.

Embung, kolam retensi, rawa, ruang terbuka hijau, kawasan resapan, sumur resapan hingga sistem pemanenan air hujan dapat menjadi bagian dari solusi.

Simpan air ketika berlebih, manfaatkan ketika kekurangan.

Pemerintah daerah perlu memperkuat pemantauan terhadap kondisi sungai, sumber air, air tanah dan kawasan gambut.

Daerah yang memiliki tingkat kerawanan kekeringan tinggi juga perlu dipetakan dan dipersiapkan sejak dini.

Sektor pertanian dan perkebunan membutuhkan dukungan adaptasi terhadap perubahan pola musim. Informasi prakiraan cuaca dan curah hujan juga perlu diterjemahkan menjadi keputusan praktis bagi masyarakat, terutama petani.

Mulai dari menentukan waktu tanam, menghitung kebutuhan air hingga mengatur penggunaan air selama periode kering.

Di tingkat masyarakat, langkah sederhana juga tidak kalah penting, seperti menghemat penggunaan air, mengurangi pemborosan serta memanfaatkan air hujan apabila memungkinkan.

Kemarau pada akhirnya akan berlalu. Hujan akan kembali turun.

Namun persoalan terbesar justru terletak pada apa yang dilakukan ketika hujan kembali datang.

Apakah air akan kembali dibiarkan mengalir begitu saja menuju sungai dan laut, atau mulai disimpan sebagai cadangan menghadapi musim kering berikutnya?

Jambi memiliki Sungai Batanghari, kawasan rawa, gambut dan berbagai sumber daya air yang menjadi modal ekologis daerah.

Tetapi sumber daya tersebut bukan sekadar untuk dieksploitasi dan dimanfaatkan.

Ada tanggung jawab untuk menjaganya agar tetap tersedia bagi generasi berikutnya.

Ketahanan air tidak dibangun ketika krisis sudah terjadi. Ketahanan air harus dibangun sebelum kemarau berikutnya datang.

Sumber gagasan: InfoJambi, tulisan Muhammad Hakiem Sedo Putra, 16 Agustus 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kontradiksi Pengibaran Bendera di Gentala Arasy, Irwanda: Jangan Terjebak Seremoni, Penderitaan Terjadi di Sepanjang Sungai Batanghari

16 Agustus 2026 - 17:10 WIB

Kupas Bawang Rp700 Ribu Sekilo: Bawangnya yang Mahal atau Logika Kita yang Pedas?

16 Agustus 2026 - 15:49 WIB

Karhutla Jambi Lintasi Jalur Pipa Migas PetroChina, Polda Tetapkan 7 Tersangka

16 Agustus 2026 - 15:10 WIB

Korban Gempa NTT Bertambah Jadi 53 Orang, 135 Terluka

16 Agustus 2026 - 15:04 WIB

Setelah NTT dan Sumut, Giliran Sulteng Diguncang Gempa Berkekuatan M 5,9

16 Agustus 2026 - 10:58 WIB

Trending di Jambi