Menu

Mode Gelap
Mobil Tangki PT Diandra Kharisma Abadi: Armada Perbantuan Pertamina Jambi Terpantau Masuk Gudang Penimbunan BBM Tambang Emas Tanpa Izin di Tebo Kian Mengkhawatirkan, Sekitar 300 Rakit Beroperasi di Sungai Batanghari Rusak Nama Baik Daerah Kelahiran, Ketum PWDPI Minta Kapolda Lampung Segera Jebloskan Sekda Lamteng ke Penjara! Bombastis! Pengadaan Kipas Angin Koperasi Merah Putih Rp1,8 Triliun, Kewarasan Pemerintah Dipertanyakan Ditpolairud Polda Jambi Sita 6,8 Ton BBM Tanpa Dokumen di Sungai Batanghari, Dua Orang Jadi Tersangka Amplop Untuk Menteri Kehutanan Raja Juli Diduga Bersumber Dari Hasil Memeras 914 Petani

Headline

Sudah 100 Hari Al haris di Singgasana: Proyek Semakin Menggila, Janji Menguap Keudara

badge-check


					Sudah 100 Hari Al haris di Singgasana: Proyek Semakin Menggila, Janji Menguap Keudara Perbesar

Oleh: Armando – Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Jambi, Menko Relasi dan Informasi BEM Universitas Jambi, Di dunia kepemimpinan, terutama dalam sistem demokrasi, periode kedua bukan waktu untuk belajar tapi waktu untuk membuktikan. Gubernur Jambi, Al Haris, saat ini telah menginjak 100 hari di periode keduanya. Namun, alih-alih menunjukkan lompatan atau gebrakan, yang tampak justru bayang-bayang stagnasi, repetisi janji, dan pembangunan yang lebih sibuk pada bentuk daripada substansi.

Retorika pembangunan besar digaungkan di berbagai kanal media dan spanduk-spanduk formal. Tapi ketika masyarakat menoleh ke jalan yang berlubang, proyek yang bocor, dan janji yang tertinggal, maka yang muncul adalah satu pertanyaan mendasar: Apakah kita sedang dibangun, atau sedang dibohongi?

Islamic Center: Monumen Gagal yang Dibangun di Atas Kebisingan

Salah satu proyek yang menjadi sorotan tajam publik dalam 100 hari terakhir adalah pembangunan Islamic Center Jambi. Digagas sebagai pusat spiritual dan simbol kemegahan Islam di provinsi ini, kenyataannya justru mencederai makna agung tersebut.

Baru beberapa saat setelah digadang-gadang sebagai ikon, atapnya bocor. Bukan karena hujan kritik tapi karena kesalahan konstruksi. Tambahan anggaran mulai dibahas bahkan sebelum fungsi gedung berjalan optimal. Rakyat pun bertanya: mengapa proyek sebesar ini cacat dari awal? Apakah pengawasan tak berjalan, atau kualitas dikorbankan demi kecepatan seremonial?

Pembangunan berbasis nilai agama tidak semestinya menjadi ladang pemborosan anggaran dan pencitraan. Jika niatnya mulia, maka pelaksanaannya harus pula jujur dan berkelas.

Janji TPA Kerinci–Sungai Penuh: Sampah yang Kian Menumpuk, Solusi yang Kian Jauh

Selama kampanye periode lalu, salah satu komitmen Al Haris adalah penyelesaian konflik dan pembangunan TPA regional bagi Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Tapi hari ini, 100 hari telah berlalu tanpa langkah konkret. Sampah masih jadi masalah sosial, konflik antarwilayah belum diredakan, dan rakyat dibiarkan bertahan dengan persoalan klasik yang tak kunjung diurai.

Jika janji hanya sekadar alat retoris untuk memenangkan suara, maka bagaimana rakyat bisa kembali percaya pada proses demokrasi yang sehat?

Tambang dan Jalan Rusak: Ketika Negara Terlihat Tak Berani pada Korporasi

Satu lagi kegagalan serius yang mulai menjadi “normal” di provinsi ini adalah soal jalan rusak akibat aktivitas tambang. Dari Sarolangun, Batanghari, hingga Merangin, kondisi jalan hancur oleh lalu lintas truk perusahaan. Namun pemprov tak kunjung membuat langkah tegas untuk menata jalur tambang, menagih kompensasi, atau menertibkan perizinan yang jelas-jelas merugikan publik.

Ketika negara diam menghadapi pemodal, dan rakyat terus membayar kerusakan dengan nyawa dan biaya, maka kita patut bertanya: siapa sebenarnya yang sedang dilindungi oleh pemerintah daerah?

Dana PI Migas 10%: Transparansi yang Tak Pernah Datang

Janji transparansi dana Partisipasi Interest (PI) 10% dari sektor migas juga nyaris tak terdengar. Wacana itu terus bergema sejak periode pertama, namun kini tetap saja tak ada kepastian. Rakyat tidak tahu siapa yang mengelola, bagaimana dana itu disalurkan, atau ke mana alurnya diarahkan.

Minimnya transparansi dalam urusan sebesar ini sangat berbahaya. Karena di balik angka besar, tersembunyi banyak potensi celah untuk penyalahgunaan. Apalagi bila dikemas dalam ruang gelap tanpa pelibatan publik.

Rakyat Tak Butuh Monumen, Tapi Keberpihakan

Pemerintahan daerah tak boleh hanya sibuk membangun fisik tanpa menyelesaikan akar persoalan sosial. Apa artinya Islamic Center megah, jika jalan ke sekolah masih becek dan berlumpur? Apa gunanya plakat peresmian besar, jika janji kecil seperti TPA saja gagal diwujudkan?

100 hari adalah momentum untuk evaluasi. Jika sekarang saja sudah penuh cela dan tanda tanya, bagaimana dengan lima tahun ke depan?

Penutup: Mahasiswa Tak Akan Diam

Sebagai mahasiswa, kami bukan oposisi. Tapi kami tak akan diam saat pembangunan tak berpihak dan janji dikhianati. Kritik ini bukan karena kami benci kekuasaan. Tapi karena kami percaya, kekuasaan yang tak dikritik akan terus merasa benar dan ketika itu terjadi, rakyatlah yang akan terus jadi korban.

Gubernur Al Haris masih punya waktu untuk membalikkan keadaan. Tapi waktu itu tidak panjang. Jika hari-hari mendatang hanya diisi dengan seremoni dan slogan, maka rakyat akan mencatat periode ini bukan sebagai masa keemasan tapi sebagai masa ketika janji tak punya harga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rusak Nama Baik Daerah Kelahiran, Ketum PWDPI Minta Kapolda Lampung Segera Jebloskan Sekda Lamteng ke Penjara!

14 Juli 2026 - 13:22 WIB

Amplop Untuk Menteri Kehutanan Raja Juli Diduga Bersumber Dari Hasil Memeras 914 Petani

13 Juli 2026 - 18:25 WIB

Rumah Anggota Parlemen Irak Digrebek, Dari Sempak Uang Tunai dan Emas Senilai Rp1,03 Triliun Disita

13 Juli 2026 - 16:55 WIB

Pameran “Boru Ni Raja” di ITB: Visualisasi Penghormatan Kepada Perempuan Batak

13 Juli 2026 - 00:37 WIB

Ribuan SHM Masih Terblokir, Warga Jambi Bawa Aspirasi ke DPR RI, Harapkan Kepastian Hukum

12 Juli 2026 - 15:48 WIB

Trending di Headline