NTT, 4 Februari 2026 – elangnusantara.com – Kasus meninggalnya seorang anak sekolah dasar (SD) di Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat gantung diri kembali mengguncang nurani publik. Peristiwa ini tidak bisa dipahami secara dangkal sebagai akibat kekecewaan sesaat karena tidak dibelikan pulpen dan buku tulis. Di balik tragedi tersebut, tersimpan persoalan psikologis dan struktural yang jauh lebih kompleks.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, Lahargo Kembaren, menegaskan bahwa bunuh diri pada anak tidak pernah berdiri pada satu penyebab tunggal. Tekanan ekonomi keluarga, menurutnya, kerap menjadi faktor laten yang membentuk beban psikologis anak secara sistemik.
Dikutip dari laman media resmi liputan6.com “Masalah ekonomi sangat berpengaruh secara tidak langsung namun mendalam terhadap kesehatan mental anak,” ujar Lahargo dalam keterangan tertulis yang diterima Health Liputan6.com, Rabu (4/2/2026).
Ia menjelaskan, dalam kondisi tekanan ekonomi kronis, anak kerap menyerap stres orang tua meskipun tidak sepenuhnya memahami akar persoalan. Anak bisa merasa dirinya menjadi penyebab kesulitan keluarga, memunculkan rasa bersalah dan tanggung jawab semu yang tidak sesuai dengan usia perkembangannya.
Bukan Sekadar Masalah Keluarga, tapi Kegagalan Sistemik
Lahargo menekankan, tragedi bunuh diri pada anak SD tidak bisa direduksi sebagai kegagalan individu atau keluarga semata. Ada persoalan struktural yang turut berperan, mulai dari minimnya layanan kesehatan jiwa anak yang mudah diakses, rendahnya literasi kesehatan mental di masyarakat, hingga lemahnya sistem deteksi dini di sekolah dan lingkungan sosial.
“Ketika anak memikul beban orang dewasa, itu tanda sistem belum cukup memeluk,” tegasnya.
Faktor Risiko Bunuh Diri pada Anak
Merujuk pada kajian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta laporan tren nasional Kementerian Kesehatan RI, Lahargo memaparkan sejumlah faktor risiko utama bunuh diri pada anak usia sekolah dasar, antara lain:
Faktor individu:
• Depresi dan kecemasan berat
• Kesulitan mengelola emosi
• Perasaan bersalah berlebihan dan merasa menjadi beban
Faktor keluarga:
• Tekanan ekonomi kronis
• Konflik keluarga, kekerasan verbal atau fisik
• Orang tua dengan stres berat atau gangguan mental
Faktor lingkungan:
• Perundungan (bullying)
• Isolasi sosial
• Paparan konten bunuh diri di media digital tanpa pendampingan
Anak Tidak Ingin Mati, Tapi Kehabisan Cara Bertahan
Menjawab pertanyaan mendasar apakah anak benar-benar ingin meninggal, Lahargo menegaskan bahwa pada umumnya anak tidak sedang ingin mati.
“Anak tidak sedang ingin mati, dia sedang tidak tahu bagaimana caranya hidup dengan beban yang terlalu berat,” ujarnya.
Secara perkembangan, anak usia 9 hingga 10 tahun memang mulai memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen. Namun, pemahaman tersebut belum matang secara emosional dan kognitif. Cara berpikir anak masih konkret dan hitam-putih, sehingga dalam tekanan berat, mereka bisa menarik kesimpulan ekstrem seperti, “Kalau aku tidak ada, masalah akan selesai.”
WHO mencatat bahwa bunuh diri bukan hanya isu orang dewasa. Risiko ini muncul pada kelompok usia muda ketika distres psikologis bertemu dengan minimnya dukungan emosional.
“Pada anak, bunuh diri bukan soal kematian, tapi tentang keputusasaan yang tak punya bahasa,” tambah Lahargo.
Tren Meningkat dan Tanda Bahaya yang Sering Diabaikan
Kementerian Kesehatan RI mencatat adanya tren peningkatan percobaan bunuh diri pada anak dan remajadalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan meningkatnya tekanan sosial, ekonomi, dan paparan digital.
“Bunuh diri pada anak hampir selalu lahir dari akumulasi, bukan satu kejadian,” tegas Lahargo.
Perubahan perilaku anak menjadi alarm paling penting yang tidak boleh diabaikan, di antaranya:
• Menarik diri dan menjadi sangat pendiam
• Perubahan emosi drastis: murung, mudah menangis, cepat marah
• Ucapan bernada putus asa seperti “Aku capek hidup” atau “Aku cuma bikin repot”
• Gangguan tidur dan mimpi buruk berulang
• Penurunan prestasi sekolah atau kehilangan minat bermain
WHO menegaskan, mayoritas anak yang melakukan bunuh diri sebenarnya telah menunjukkan tanda peringatan sebelumnya, namun sering kali tidak terbaca atau dianggap sepele oleh lingkungan sekitar.
“Perilaku anak berubah bukan tanpa sebab. Itu cara jiwa meminta tolong,” pungkas Lahargo.











