Bandung, 13 Juli 2026 – elangnusantara.com – Seni kembali menjadi medium yang mempertemukan nilai budaya, sejarah, dan penghormatan terhadap perempuan. Hal tersebut tercermin dalam pameran bertajuk “Boru Ni Raja” yang digelar di Galeri Soemardja, Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), menghadirkan karya-karya pelukis Ni Ketut Ayu Sri Wardani yang mengangkat filosofi perempuan Batak sebagai sosok yang dihormati dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Pameran tersebut lahir dari perjalanan hidup sang seniman yang berasal dari Bali dan memiliki ikatan emosional dengan budaya Batak melalui mendiang suaminya, Erland Sibuea. Melalui puluhan karya yang dipamerkan, Ayu berupaya mewujudkan cita-cita bersama untuk memperkenalkan kekayaan budaya Batak kepada masyarakat luas melalui bahasa visual.
Istilah “Boru Ni Raja”, yang secara harfiah berarti “Putri Raja”, dalam filosofi Batak Toba bukan sekadar gelar, melainkan simbol penghormatan terhadap perempuan. Nilai tersebut menggambarkan perempuan sebagai pribadi yang bermartabat, mandiri, bijaksana, serta memiliki tanggung jawab penting dalam menjaga keharmonisan keluarga maupun kehidupan sosial.
Berbagai lukisan yang ditampilkan menghadirkan representasi kehidupan perempuan Batak dalam keseharian, mulai dari aktivitas bertani, menenun ulos, menjadi nelayan, hingga tarian tradisional Tor-tor. Salah satu karya berukuran besar yang menampilkan perempuan Batak membawa tandok menjadi pusat perhatian karena menggambarkan ketangguhan perempuan dalam menjalankan peran domestik maupun peran di ruang publik.
Kurator pameran menjelaskan bahwa filosofi Boru Ni Raja merupakan bagian penting dari identitas budaya Batak yang menempatkan perempuan pada posisi terhormat dengan nilai moral, etika, dan tanggung jawab yang tinggi dalam kehidupan bermasyarakat.
Pembukaan pameran turut dihadiri sivitas akademika ITB, alumni, keluarga, serta berbagai tokoh seni dan budaya. Kehadiran mereka menjadi bentuk apresiasi terhadap upaya pelestarian budaya Nusantara melalui karya seni rupa yang sarat makna.
Pameran ini sekaligus memperlihatkan bagaimana seni mampu menjadi jembatan lintas budaya. Melalui sentuhan estetika, nilai-nilai luhur masyarakat Batak diperkenalkan kepada publik secara lebih luas, sekaligus memperkuat pesan bahwa perempuan memiliki posisi penting sebagai penjaga nilai, tradisi, dan identitas budaya bangsa.
Sebagai institusi pendidikan yang mendorong lahirnya karya-karya kreatif, ITB melalui penyelenggaraan pameran ini kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung perkembangan seni rupa Indonesia sekaligus memperkuat ruang dialog antarbudaya di tengah masyarakat.











