Menu

Mode Gelap
UNESCO Dijadwalkan Lakukan Revalidasi Geopark Merangin: Pemkab dan Polisi Kalang Kabut Tertibkan PETI Krisis Ekologi Kian Nyata: Sungai Batanghari Kian Dangkal, PETI Dituding Sebagai Penyebab Sedimentasi Mayoritas Warganet Menolak PETI: “Air Dulu Jernih, Kini Keruh” Dilema Tuntutan Ekonomi dan Kerusakan Ekologi Dilema PETI di Jambi: Antara Kebutuhan Perut dan Keserakahan, Saat Sungai Batanghari Terus Menanggung Beban! Gelombang Protes Warga Menguat, Masyarakat Jambi Desak Penyelamatan Sungai Batanghari dari Kerusakan Lingkungan Extinction Rebellion Jambi Gelar Aksi Damai, Soroti Ancaman Kerusakan Sungai Batanghari

Jambi

Mayoritas Warganet Menolak PETI: “Air Dulu Jernih, Kini Keruh” Dilema Tuntutan Ekonomi dan Kerusakan Ekologi

badge-check


					Mayoritas Warganet Menolak PETI:     “Air Dulu Jernih, Kini Keruh” Dilema Tuntutan Ekonomi dan Kerusakan Ekologi Perbesar

Jambi, 4 Agustus 2026 – elangnusantara.com – Pemberitaan mengenai aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang dipublikasikan oleh elangnusantara.com melalui akun TikTok memicu beragam tanggapan dari warganet. Mayoritas komentar yang masuk menyoroti dampak lingkungan yang dinilai semakin mengkhawatirkan, terutama terhadap kondisi Sungai Batanghari yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Jambi.

Sejumlah warganet menilai kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang ilegal telah memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan manfaat ekonomi yang dirasakan segelintir pihak.

Akun @Riki Giring menyampaikan bahwa persoalan PETI bukan lagi sekadar mencari nafkah, melainkan telah mengarah pada tindakan yang merugikan masyarakat luas. Menurutnya, masyarakat harus menanggung beban berupa pencemaran sungai, meningkatnya risiko banjir dan longsor, serta hilangnya kualitas air yang dahulu jernih.

Komentar senada disampaikan akun @Akas_68 yang menegaskan bahwa aktivitas PETI tetap tidak dapat dibenarkan karena bertentangan dengan aturan hukum dan berpotensi merusak lingkungan.

Sementara itu, akun @Diki Oktama berpendapat bahwa sumber utama kekeruhan Sungai Batanghari berada di kawasan hulu, sehingga upaya penanganan seharusnya difokuskan pada wilayah-wilayah yang menjadi titik aktivitas pertambangan.

Kekhawatiran terhadap ketersediaan air bersih juga menjadi perhatian publik. Akun @Rizal ft zilong mengaku khawatir dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang masyarakat akan mengalami krisis air bersih apabila aktivitas tambang ilegal terus berlangsung tanpa pengendalian.

Pendapat serupa disampaikan akun @kenzieeeee, yang menilai penyelesaian persoalan harus dimulai dari kawasan hulu sungai. Menurutnya, kondisi debit air yang terus menurun serta perubahan kualitas air menjadi tanda bahwa daya dukung lingkungan mulai melemah sehingga diperlukan kebijakan yang berpihak pada kelestarian alam.

Di sisi lain, tidak semua komentar bernada penolakan. Akun @hdry mengingatkan bahwa kondisi ekonomi yang sulit dan terbatasnya lapangan pekerjaan menjadi alasan sebagian masyarakat memilih bekerja di sektor pertambangan. Menurutnya, banyak penambang hanya berusaha mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan PETI tidak hanya berkaitan dengan aspek penegakan hukum dan lingkungan, tetapi juga menyangkut persoalan sosial dan ekonomi masyarakat yang membutuhkan solusi secara menyeluruh.

Komentar yang cukup menyita perhatian datang dari akun @M.maidi.Mr yang memprediksi bahwa apabila aktivitas tambang ilegal terus berlangsung tanpa pengawasan dan penindakan yang efektif, maka pada tahun 2030 kualitas air Sungai Batanghari dikhawatirkan akan semakin menurun hingga sulit dimanfaatkan sebagai sumber air bersih. Pernyataan tersebut merupakan opini pribadi yang mencerminkan kekhawatiran terhadap masa depan sungai.

Di tengah berbagai pandangan tersebut, dukungan terhadap upaya penyelamatan Sungai Batanghari juga terus bermunculan. Akun @Dedi Hidayatulloh memberikan semangat kepada seluruh pihak yang terus mengawal perbaikan kondisi sungai agar dapat kembali menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Jambi.

Beragam komentar yang muncul menunjukkan bahwa isu PETI telah menjadi perhatian luas masyarakat. Sebagian besar warganet berharap pemerintah, aparat penegak hukum, pelaku usaha, akademisi, organisasi lingkungan, serta masyarakat dapat bersama-sama mencari solusi yang tidak hanya menegakkan hukum terhadap aktivitas pertambangan ilegal, tetapi juga menghadirkan alternatif mata pencaharian yang berkelanjutan bagi warga yang bergantung pada sektor tersebut.

Sungai Batanghari merupakan salah satu sungai terpanjang di Sumatra yang memiliki fungsi vital sebagai sumber air baku, penopang ekosistem, jalur transportasi, serta penyangga kehidupan jutaan masyarakat. Karena itu, menjaga kelestariannya dinilai menjadi tanggung jawab bersama demi keberlanjutan lingkungan dan generasi yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

UNESCO Dijadwalkan Lakukan Revalidasi Geopark Merangin: Pemkab dan Polisi Kalang Kabut Tertibkan PETI

4 Agustus 2026 - 10:04 WIB

Krisis Ekologi Kian Nyata: Sungai Batanghari Kian Dangkal, PETI Dituding Sebagai Penyebab Sedimentasi

4 Agustus 2026 - 05:58 WIB

Dilema PETI di Jambi: Antara Kebutuhan Perut dan Keserakahan, Saat Sungai Batanghari Terus Menanggung Beban!

3 Agustus 2026 - 16:04 WIB

Gelombang Protes Warga Menguat, Masyarakat Jambi Desak Penyelamatan Sungai Batanghari dari Kerusakan Lingkungan

3 Agustus 2026 - 10:08 WIB

Extinction Rebellion Jambi Gelar Aksi Damai, Soroti Ancaman Kerusakan Sungai Batanghari

3 Agustus 2026 - 05:50 WIB

Trending di Jambi