Menu

Mode Gelap
Kebijakan Sampah Walikota Kota Jambi Disorot, PWDPI Dorong Evaluasi dari Perspektif Hukum dan Etika Politik Dihajar Jawa Tengah 3-1 di Laga Kedua, Banteng Jambi United Terpuruk ke Dasar Klasemen Karhutla Muaro Jambi Mengganas, PBP Dorong Pencegahan Berbasis Masyarakat Mega Wati Soekarno Putri Geram Lihat Laki-Laki Memble “Pengen Saya Tamparin Semua” KPK Jambi Gelar Aksi di Polda Jambi, Soroti Dugaan Mafia BBM, Kelangkaan Bahan Bakar dan Akan Gelar Aksi Lanjutan! Karhutla Muaro Jambi: SEKBER PSDH Dorong Evaluasi Perhutanan Sosial dan Tata Kelola Hidrologi Gambut Berbasis KHG

Jambi

Heboh! 135 Kopdes Merah Putih ‘Berada’ di Laut? Ketika Data Digital Lebih Cepat daripada Verifikasi

badge-check


					Heboh! 135 Kopdes Merah Putih ‘Berada’ di Laut? Ketika Data Digital Lebih Cepat daripada Verifikasi Perbesar

Jambi, 6 Agustus 2026 – elangnusantara.com – Di era digital, satu titik koordinat yang keliru ternyata mampu “membangun” puluhan koperasi di tengah lautan. Itulah yang menjadi sorotan publik setelah 135 Koperasi Desa Merah Putih di Kalimantan Selatan muncul pada peta digital seolah-olah berdiri di atas air.

Tentu saja masyarakat bertanya-tanya. Apakah ini inovasi baru? Koperasi terapung? Atau justru bukti bahwa validasi data masih sering dianggap sebagai pelengkap administrasi semata?

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memastikan jawabannya bukan keduanya. Bangunan koperasi tetap berada di daratan. Yang “berlayar” hanyalah titik koordinat akibat kesalahan penginputan data (geotagging).

Penjelasan tersebut memang menjawab rasa penasaran publik. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana mungkin program berskala nasional dengan anggaran dan pengawasan berlapis masih bisa lolos dengan kesalahan data yang begitu mencolok?

Di tengah gencarnya jargon transformasi digital, masyarakat tentu berharap digitalisasi tidak hanya berhenti pada unggahan data ke sistem. Sebab, teknologi secanggih apa pun tetap bergantung pada ketelitian manusia yang mengoperasikannya.

Kesalahan koordinat mungkin terdengar sederhana. Namun, ketika data itu menjadi konsumsi publik, kepercayaan masyarakat ikut dipertaruhkan. Bagi warga, yang terlihat di layar adalah fakta. Ketika koperasi tampak berada di laut, yang dipertanyakan bukan sekadar titik koordinat, melainkan kualitas tata kelola data pemerintah.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa digitalisasi bukan sekadar memindahkan berkas ke komputer atau memasukkan koordinat ke aplikasi. Validasi, verifikasi, dan akurasi harus menjadi fondasi utama.

Jangan sampai publik kembali dibuat bingung oleh data yang “berlayar” lebih jauh daripada fakta di lapangan. Sebab, membangun kepercayaan masyarakat jauh lebih sulit daripada sekadar memindahkan titik koordinat di peta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kebijakan Sampah Walikota Kota Jambi Disorot, PWDPI Dorong Evaluasi dari Perspektif Hukum dan Etika Politik

14 Agustus 2026 - 11:12 WIB

Dihajar Jawa Tengah 3-1 di Laga Kedua, Banteng Jambi United Terpuruk ke Dasar Klasemen

14 Agustus 2026 - 08:49 WIB

Karhutla Muaro Jambi Mengganas, PBP Dorong Pencegahan Berbasis Masyarakat

14 Agustus 2026 - 08:42 WIB

Mega Wati Soekarno Putri Geram Lihat Laki-Laki Memble “Pengen Saya Tamparin Semua”

14 Agustus 2026 - 04:17 WIB

KPK Jambi Gelar Aksi di Polda Jambi, Soroti Dugaan Mafia BBM, Kelangkaan Bahan Bakar dan Akan Gelar Aksi Lanjutan!

13 Agustus 2026 - 08:51 WIB

Trending di Jambi