Jambi, 6 Agustus 2026 – elangnusantara.com – Di era digital, satu titik koordinat yang keliru ternyata mampu “membangun” puluhan koperasi di tengah lautan. Itulah yang menjadi sorotan publik setelah 135 Koperasi Desa Merah Putih di Kalimantan Selatan muncul pada peta digital seolah-olah berdiri di atas air.
Tentu saja masyarakat bertanya-tanya. Apakah ini inovasi baru? Koperasi terapung? Atau justru bukti bahwa validasi data masih sering dianggap sebagai pelengkap administrasi semata?
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memastikan jawabannya bukan keduanya. Bangunan koperasi tetap berada di daratan. Yang “berlayar” hanyalah titik koordinat akibat kesalahan penginputan data (geotagging).
Penjelasan tersebut memang menjawab rasa penasaran publik. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana mungkin program berskala nasional dengan anggaran dan pengawasan berlapis masih bisa lolos dengan kesalahan data yang begitu mencolok?
Di tengah gencarnya jargon transformasi digital, masyarakat tentu berharap digitalisasi tidak hanya berhenti pada unggahan data ke sistem. Sebab, teknologi secanggih apa pun tetap bergantung pada ketelitian manusia yang mengoperasikannya.
Kesalahan koordinat mungkin terdengar sederhana. Namun, ketika data itu menjadi konsumsi publik, kepercayaan masyarakat ikut dipertaruhkan. Bagi warga, yang terlihat di layar adalah fakta. Ketika koperasi tampak berada di laut, yang dipertanyakan bukan sekadar titik koordinat, melainkan kualitas tata kelola data pemerintah.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa digitalisasi bukan sekadar memindahkan berkas ke komputer atau memasukkan koordinat ke aplikasi. Validasi, verifikasi, dan akurasi harus menjadi fondasi utama.
Jangan sampai publik kembali dibuat bingung oleh data yang “berlayar” lebih jauh daripada fakta di lapangan. Sebab, membangun kepercayaan masyarakat jauh lebih sulit daripada sekadar memindahkan titik koordinat di peta.











