Menu

Mode Gelap
Satresnarkoba Polresta Jambi Sisir Pulau Pandan, Enam Orang Positif Narkoba Diamankan Komentar Warganet Jadi Cermin Kerinduan akan Sungai Batanghari Yang Pernah Jernih di Tahun 2015 Zulhas Bantah Isu Kopdes di Tengah Laut: “Gimana Nyemennya?” Heboh! 135 Kopdes Merah Putih ‘Berada’ di Laut? Ketika Data Digital Lebih Cepat daripada Verifikasi GPM Jambi Desak Kejati Usut Dugaan Korupsi Program FPKM Rp8,9 Miliar di Tanjab Barat Terungkap! Polisi Klaim Sudah Kantongi Identitas Terduga Pelaku Pembobolan Pipa Pertamina

Jambi

Heboh! 135 Kopdes Merah Putih ‘Berada’ di Laut? Ketika Data Digital Lebih Cepat daripada Verifikasi

badge-check


					Heboh! 135 Kopdes Merah Putih ‘Berada’ di Laut? Ketika Data Digital Lebih Cepat daripada Verifikasi Perbesar

Jambi, 6 Agustus 2026 – elangnusantara.com – Di era digital, satu titik koordinat yang keliru ternyata mampu “membangun” puluhan koperasi di tengah lautan. Itulah yang menjadi sorotan publik setelah 135 Koperasi Desa Merah Putih di Kalimantan Selatan muncul pada peta digital seolah-olah berdiri di atas air.

Tentu saja masyarakat bertanya-tanya. Apakah ini inovasi baru? Koperasi terapung? Atau justru bukti bahwa validasi data masih sering dianggap sebagai pelengkap administrasi semata?

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memastikan jawabannya bukan keduanya. Bangunan koperasi tetap berada di daratan. Yang “berlayar” hanyalah titik koordinat akibat kesalahan penginputan data (geotagging).

Penjelasan tersebut memang menjawab rasa penasaran publik. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana mungkin program berskala nasional dengan anggaran dan pengawasan berlapis masih bisa lolos dengan kesalahan data yang begitu mencolok?

Di tengah gencarnya jargon transformasi digital, masyarakat tentu berharap digitalisasi tidak hanya berhenti pada unggahan data ke sistem. Sebab, teknologi secanggih apa pun tetap bergantung pada ketelitian manusia yang mengoperasikannya.

Kesalahan koordinat mungkin terdengar sederhana. Namun, ketika data itu menjadi konsumsi publik, kepercayaan masyarakat ikut dipertaruhkan. Bagi warga, yang terlihat di layar adalah fakta. Ketika koperasi tampak berada di laut, yang dipertanyakan bukan sekadar titik koordinat, melainkan kualitas tata kelola data pemerintah.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa digitalisasi bukan sekadar memindahkan berkas ke komputer atau memasukkan koordinat ke aplikasi. Validasi, verifikasi, dan akurasi harus menjadi fondasi utama.

Jangan sampai publik kembali dibuat bingung oleh data yang “berlayar” lebih jauh daripada fakta di lapangan. Sebab, membangun kepercayaan masyarakat jauh lebih sulit daripada sekadar memindahkan titik koordinat di peta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Satresnarkoba Polresta Jambi Sisir Pulau Pandan, Enam Orang Positif Narkoba Diamankan

6 Agustus 2026 - 16:44 WIB

Komentar Warganet Jadi Cermin Kerinduan akan Sungai Batanghari Yang Pernah Jernih di Tahun 2015

6 Agustus 2026 - 06:24 WIB

Zulhas Bantah Isu Kopdes di Tengah Laut: “Gimana Nyemennya?”

6 Agustus 2026 - 05:37 WIB

GPM Jambi Desak Kejati Usut Dugaan Korupsi Program FPKM Rp8,9 Miliar di Tanjab Barat

6 Agustus 2026 - 05:16 WIB

Terungkap! Polisi Klaim Sudah Kantongi Identitas Terduga Pelaku Pembobolan Pipa Pertamina

5 Agustus 2026 - 05:56 WIB

Trending di Jambi