Menu

Mode Gelap
Jejak Dugaan Penyelewengan BBM Subsidi Jambi Sebut Mantan Pelaku Ungkap Peran “Apek Bungo” dan Suhaimi Bupati Merangin M. Syukur Buka Bimtek SDM Diskominfo dan Dorong Insan Pers Adaptif di Era Digital Ketua DPD GRIB Jaya Jambi: Saatnya Aparat Penegak Hukum Periksa Dugaan Manipulasi Tata Kelola Izin Tambang di Jambi Lima Personel Polda Jambi Dipecat Terkait Kematian Brigadir EWS, Proses Pidana Tetap Berjalan Satresnarkoba Polresta Jambi Sisir Pulau Pandan, Enam Orang Positif Narkoba Diamankan Komentar Warganet Jadi Cermin Kerinduan akan Sungai Batanghari Yang Pernah Jernih di Tahun 2015

Headline

Limbah Oli Cemari Tanah: Gudang Diduga Tak Berizin dan Abaikan Aturan Lingkungan Hidup

badge-check


					Limbah Oli Cemari Tanah: Gudang Diduga Tak Berizin dan Abaikan Aturan Lingkungan Hidup Perbesar

Jambi – Investigasi tim elang menemukan sebuah gudang mencurigakan yang diduga menyimpan dan memproses limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) berupa oli bekas di kawasan Jalan Baru, tepatnya di perbatasan antara Kelurahan Payo Selincah dan Desa Kasang Kumpeh. Aktivitas berbahaya ini diduga telah berlangsung selama berbulan-bulan tanpa pengawasan otoritas lingkungan, dengan potensi pencemaran lingkungan yang serius.

Dari pantauan langsung di lokasi, terlihat puluhan drum oli bekas dalam kondisi berkarat, peralatan sederhana, serta area terbuka yang menunjukkan indikasi kuat terjadinya pembuangan limbah langsung ke tanah. Tidak terlihat adanya fasilitas pengelolaan limbah sesuai standar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), maupun informasi legalitas berupa papan nama usaha atau izin lingkungan yang dipajang secara terbuka.

Saat ditelusuri lebih jauh, nama David mencuat sebagai pemilik gudang tersebut. Dalam konfirmasi kepada tim media, David membenarkan bahwa ia adalah pemilik lokasi itu. Ia menyatakan bahwa aktivitas yang dilakukan hanya sebatas “pengumpulan” oli bekas, bukan pengelolaan. David mengklaim bahwa oli tersebut dikirim sebagian ke Jakarta dan sebagian lagi ke wilayah Bayung untuk keperluan pembakaran.

“Iya benar, kenapa ya Pak? Kita izin pengumpulan aja. Sebagian ada yang ngambil untuk pembakaran di Bayung,” ujar David melalui pesan WhatsApp.

Menariknya, ketika diminta menunjukkan izin resmi, David tidak memberikan dokumen legal dari KLHK atau Dinas Lingkungan Hidup (DLH), melainkan mengirimkan profil perusahaan PT. PRIMANRU JAYAsebagai bentuk acuan legalitas aktivitasnya.

“Bisa ada pelajari ya, semua di situ jelas,” lanjut David.

David berdalih bahwa profil perusahaan tersebut cukup membuktikan bahwa aktivitasnya legal karena hanya melakukan pengumpulan limbah, bukan pengelolaan. Namun, dari hasil penelusuran tim media, profil perusahaan bukanlah bukti sah perizinan pengumpulan atau pengangkutan limbah B3. Aktivitas seperti ini tetap wajib memiliki izin resmi dari pemerintah pusat (KLHK) dan daerah (DLH), termasuk Nomor Induk Berusaha (NIB) dengan risiko tinggi, serta persetujuan teknis dan dokumen lingkungan.

Ciri Gudang Ilegal Limbah B3 Terpenuhi

Berdasarkan temuan di lapangan, gudang milik David diduga kuat memenuhi beberapa indikator sebagai fasilitas ilegal pengelolaan limbah B3, antara lain:

1. Tidak memiliki izin resmi pengumpulan, pengangkutan, atau pengelolaan limbah B3 dari KLHK.

2. Tidak mengikuti standar teknis penyimpanan limbah: tidak ada alat pelindung, tidak ada sistem penampungan, dan tidak ada pengamanan terhadap tumpahan.

3. Beroperasi di area yang tersembunyi dan bukan kawasan industri.

4. Tercium bau menyengat dan ditemukan indikasi pencemaran tanah.

5. Terdapat dugaan pembuangan dan/atau pembakaran ilegal limbah.

Aktivitas semacam ini melanggar ketentuan UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, khususnya Pasal 104, yang menyatakan:

“Setiap orang yang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke media lingkungan hidup tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 dipidana dengan pidana penjara paling lama tiga tahun dan denda paling banyak Rp3 miliar.”

Dampak Serius bagi Lingkungan dan Masyarakat

Limbah B3 seperti oli bekas mengandung logam berat dan senyawa kimia berbahaya yang bila tidak ditangani sesuai SOP dapat mencemari tanah, air tanah, serta membahayakan kesehatan manusia dan hewan. Pencemaran ini bisa berdampak jangka panjang terhadap ekosistem dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tindakan tegas dari pemerintah daerah terhadap keberadaan gudang tersebut. Namun informasi dari sumber internal menyebutkan bahwa pihak DLH dan aparat penegak hukum mulai melakukan pendataan dan pelacakan izin usaha serta kemungkinan penyegelan lokasi untuk kebutuhan penyelidikan lebih lanjut.

Panggilan Serius untuk Penegakan Hukum

Tim media mendesak pihak terkait – termasuk DLH Kota Jambi, KLHK, dan aparat kepolisian – untuk bertindak cepat, tegas, dan profesional. Penegakan hukum terhadap kejahatan lingkungan tidak boleh tumpul ke atas, apalagi jika pelaku menyalahgunakan badan hukum sebagai tameng pelanggaran.

Jika terbukti tidak memiliki izin dan melakukan pencemaran, pemilik gudang dapat dijerat sanksi pidana dan perdata, termasuk gugatan lingkungan oleh masyarakat terdampak.

Sebagai media yang menjunjung tinggi etika jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999, kami membuka ruang seluas-luasnya untuk hak jawab dari pihak-pihak terkait, termasuk David dan PT. PRIMANRU JAYA, guna menjaga keseimbangan pemberitaan.

Investigasi lanjutan masih terus dilakukan untuk menggali fakta dan memastikan informasi yang disampaikan akurat serta dapat dipertanggungjawabkan di hadapan publik.

(Tim Investigasi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Investigasi Khusus: Puluhan Excavator Milik PT Daffa Mitra Forestry Diduga Dialihfungsikan Untuk PETI di Merangin

26 Juli 2026 - 17:40 WIB

Antisipasi Geng Motor dan Balap Liar, Wali Kota Maulana Pimpin Patroli Gabungan Skala Besar di Kota Jambi

26 Juli 2026 - 11:49 WIB

KKL-PPM 79 Universitas Malahayati Hadirkan Edukasi Anti Bullying di SD IT Wahdatul Ummah Kota Metero

25 Juli 2026 - 15:43 WIB

Danau Ranau: Secuil Surga Di Balik Bukit, Destinasi Ideal Wisatawan

25 Juli 2026 - 15:41 WIB

Viral Klaim 325 Kilogram Emas di Rumah Eks Wakil Menteri, Ini Hasil Penelusuran Fakta

23 Juli 2026 - 12:41 WIB

Trending di Headline