Kota Jambi, 30 Maret 2026 – elangnusantara.com – Komitmen masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan kembali ditunjukkan melalui aksi bersih Danau Sipin yang digelar pada Senin pagi, 30 Maret 2026. Kegiatan yang diinisiasi oleh komunitas peduli Danau Sipin bersama warga setempat ini menjadi simbol kepedulian sekaligus bentuk keprihatinan terhadap kondisi salah satu ikon alam Kota Jambi tersebut.
Dalam wawancara bersama elangnusantara.com, inisiator kegiatan, Jhon Hendri, menegaskan bahwa Danau Sipin bukan sekadar bentang alam biasa. Ia menyebut danau ini memiliki karakteristik yang sangat langka di Indonesia, yakni berada di tengah kawasan perkotaan dengan panjang mencapai kurang lebih 9.000 meter dan lebar berkisar antara 200 hingga 300 meter.
Menurutnya, dengan posisi strategis dan bentang alam yang luas, Danau Sipin sangat potensial untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan, tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga berpeluang menembus pasar internasional.
“Danau Sipin ini memiliki daya tarik yang sangat kuat. Jika dikelola dengan konsep yang matang dan berkelanjutan, bukan tidak mungkin bisa menjadi destinasi wisata berkelas dunia. Dampaknya tentu sangat besar, baik dalam meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar maupun dalam mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Jambi,” ujar Jhon.
Namun, potensi besar tersebut saat ini masih dihadapkan pada persoalan klasik yang belum terselesaikan secara tuntas, yakni masalah sampah. Berdasarkan pengamatan di lapangan, volume sampah yang masuk ke kawasan Danau Sipin diperkirakan mencapai 2 hingga 3 ton per hari.
Jenis sampah yang mendominasi antara lain limbah rumah tangga seperti plastik, styrofoam, popok sekali pakai, serta material organik seperti rumput liar dan eceng gondok yang tumbuh tak terkendali. Kondisi ini tidak hanya merusak estetika, tetapi juga berpotensi mengganggu ekosistem perairan.
Jhon menjelaskan, sebagian besar sampah tersebut berasal dari aliran Sungai Kambang yang bermuara ke Danau Sipin. Situasi diperparah dengan tidak berfungsinya pintu air, sehingga sampah dari hulu terus mengalir tanpa adanya sistem penyaringan atau pengendalian yang efektif.
“Selama pintu air tidak berfungsi, maka sampah akan terus masuk tanpa henti. Ini persoalan mendasar yang harus segera ditangani jika kita serius ingin menjadikan Danau Sipin sebagai kawasan wisata unggulan,” tegasnya.
Lebih jauh, ia juga menyoroti lambannya respon dari pemerintah daerah, baik di tingkat kota maupun provinsi. Menurutnya, berbagai laporan dan upaya komunikasi yang telah dilakukan oleh komunitas selama ini belum mendapatkan tindak lanjut yang maksimal.
“Kami sudah berulang kali menyampaikan kondisi ini kepada pihak terkait. Namun, respon yang kami terima masih sangat terbatas. Bahkan terkesan ada pembiaran terhadap persoalan yang seharusnya menjadi prioritas bersama,” ungkapnya.
Di sisi lain, keterbatasan sarana dan prasarana menjadi kendala nyata dalam upaya penanganan sampah secara mandiri oleh masyarakat. Jhon mengungkapkan bahwa komunitas tidak memiliki peralatan yang memadai, seperti perahu atau boat untuk mengangkut sampah dari tengah danau, maupun kendaraan operasional darat untuk distribusi dan pembuangan akhir.
“Kami bergerak dengan segala keterbatasan. Tidak ada boat, tidak ada armada pengangkut. Padahal volume sampah setiap hari sangat besar. Ini tentu tidak bisa hanya mengandalkan swadaya masyarakat,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengapresiasi tingkat kepedulian masyarakat sekitar yang dinilai sudah cukup baik. Partisipasi warga dalam kegiatan bersih-bersih menunjukkan adanya kesadaran kolektif, meskipun diakuinya masih terdapat sebagian masyarakat yang belum sepenuhnya memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Sebagai langkah ke depan, Jhon menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam pengelolaan Danau Sipin. Ia berharap seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang memiliki keterkaitan dapat bekerja secara terintegrasi, mulai dari Dinas Pariwisata, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), PUPR, Disperindag, hingga sektor pertanian dan perikanan.
Menurutnya, jika kolaborasi tersebut dapat terwujud, maka pengembangan Danau Sipin tidak hanya berhenti pada penataan lingkungan, tetapi juga dapat menghadirkan berbagai atraksi wisata yang menarik dan bernilai ekonomi tinggi.
“Banyak potensi yang bisa dikembangkan di sini, seperti jet ski, banana boat, paralayang, ketinting, bahkan kereta gantung dan flying fox. Tinggal bagaimana keseriusan semua pihak untuk mengelolanya secara profesional dan berkelanjutan,” paparnya.
Sementara itu, tim elangnusantara.com telah berupaya melakukan konfirmasi kepada Gubernur Jambi, Al Haris, serta Wali Kota Jambi, Maulana, guna memperoleh tanggapan resmi terkait kegiatan dan kondisi terkini Danau Sipin. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi yang disampaikan oleh kedua pimpinan daerah tersebut.
Aksi bersih yang digelar pagi tadi tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, melainkan juga seruan moral bagi seluruh pemangku kepentingan. Danau Sipin, dengan segala potensinya, kini berada di titik krusial: antara menjadi ikon wisata unggulan yang membanggakan, atau terus terjebak dalam persoalan lingkungan yang berlarut-larut tanpa solusi konkret.











