Menu

Mode Gelap
Jejak Dugaan Penyelewengan BBM Subsidi Jambi Sebut Mantan Pelaku Ungkap Peran “Apek Bungo” dan Suhaimi Bupati Merangin M. Syukur Buka Bimtek SDM Diskominfo dan Dorong Insan Pers Adaptif di Era Digital Ketua DPD GRIB Jaya Jambi: Saatnya Aparat Penegak Hukum Periksa Dugaan Manipulasi Tata Kelola Izin Tambang di Jambi Lima Personel Polda Jambi Dipecat Terkait Kematian Brigadir EWS, Proses Pidana Tetap Berjalan Satresnarkoba Polresta Jambi Sisir Pulau Pandan, Enam Orang Positif Narkoba Diamankan Komentar Warganet Jadi Cermin Kerinduan akan Sungai Batanghari Yang Pernah Jernih di Tahun 2015

Headline

Jolly Roger Diserang, Bendera Partai Disucikan: Siapa Sebenarnya Biang Kerusuhan di NKRI?

badge-check


					Jolly Roger Diserang, Bendera Partai Disucikan: Siapa Sebenarnya Biang Kerusuhan di NKRI? Perbesar

Sarolangun, 4 Agustus 2025 – Dion Setiawan, seorang warga sipil dari Muara Indung, mendadak jadi perbincangan publik setelah menyuarakan protes keras terhadap tuduhan bahwa bendera One Piece merupakan simbol makar. Ia menyebut tudingan tersebut tidak hanya absurd, tapi juga mengalihkan perhatian dari sumber kerusuhan sesungguhnya: bendera partai politik.

“Lah, yang bikin rusuh hari ini bukan bendera bajak laut One Piece. Tapi bendera partai yang muncul tiap pemilu—terus rusuh, saling serang, dan ujungnya bikin rakyat kecewa. Kenapa malah bendera anime yang diserang?” ujar Dion dengan nada geram.

Pernyataan Dion langsung memantik perbincangan luas di media sosial. Salah satunya datang dari Nando Dolim, pengamat media sosial dan budaya pop, yang menilai negara terlalu cepat panik pada simbol kreatif, tapi lemah pada simbol kekuasaan yang meresahkan.

“Bendera One Piece itu bentuk ekspresi, perlawanan simbolik terhadap ketidakadilan, dan malah mempersatukan anak muda. Yang justru bikin gaduh itu bendera partai: datang bawa janji, pulang bawa proyek,” sentil Nando.

Namun di sisi lain, kritik ini dibalas keras oleh elite politik. Dikutip dari Kompas.com, Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Firman Soebagyo, menyebut pengibaran bendera bajak laut sebagai simbol perlawanan terhadap pemerintah, dan bahkan menyebutnya sebagai bentuk potensi makar.

“Ini bagian dari kemerosotan pemahaman terhadap ideologi negara. Apalagi menjelang 17 Agustus. Harus ditindak tegas, ini bagian daripada makar,” kata Firman di Kompleks Parlemen, Jakarta (31/7/2025).

Pernyataan tersebut justru memperlebar jurang persepsi antara rakyat dan parlemen. Banyak warganet membalas dengan satire, mempertanyakan mengapa bendera fiktif ditakuti, sementara bendera partai yang nyata-nyata kerap bikin onar justru dimaklumi.

Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, memberikan pernyataan yang lebih sejuk. Dikutip dari Kompas TV, ia menyebut fenomena bendera One Piece hanyalah bentuk ekspresi kreatif masyarakat, bukan bentuk pengkhianatan terhadap negara.

“Saya kira itu ekspresi kreativitas, inovasi. Hatinya tetap Merah Putih. Semangatnya tetap Merah Putih,” ujarnya di Gedung MPR RI, Minggu (3/8/2025).

Salah satu warganet menulis:

“Kalau bendera bajak laut dilarang karena katanya makar, harusnya bendera partai juga dilarang karena bikin rakyat muak.”

Di tengah gegap gempita kemerdekaan ke-80, perdebatan ini menjadi refleksi tajam: masihkah negara memahami mana yang benar-benar mengancam, dan mana yang sekadar berekspresi?

Atau justru, simbol yang paling ditakuti adalah simbol yang tidak bisa dikendalikan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Investigasi Khusus: Puluhan Excavator Milik PT Daffa Mitra Forestry Diduga Dialihfungsikan Untuk PETI di Merangin

26 Juli 2026 - 17:40 WIB

Antisipasi Geng Motor dan Balap Liar, Wali Kota Maulana Pimpin Patroli Gabungan Skala Besar di Kota Jambi

26 Juli 2026 - 11:49 WIB

KKL-PPM 79 Universitas Malahayati Hadirkan Edukasi Anti Bullying di SD IT Wahdatul Ummah Kota Metero

25 Juli 2026 - 15:43 WIB

Danau Ranau: Secuil Surga Di Balik Bukit, Destinasi Ideal Wisatawan

25 Juli 2026 - 15:41 WIB

Viral Klaim 325 Kilogram Emas di Rumah Eks Wakil Menteri, Ini Hasil Penelusuran Fakta

23 Juli 2026 - 12:41 WIB

Trending di Headline