Menu

Mode Gelap
Mobil Tangki PT Diandra Kharisma Abadi: Armada Perbantuan Pertamina Jambi Terpantau Masuk Gudang Penimbunan BBM Tambang Emas Tanpa Izin di Tebo Kian Mengkhawatirkan, Sekitar 300 Rakit Beroperasi di Sungai Batanghari Rusak Nama Baik Daerah Kelahiran, Ketum PWDPI Minta Kapolda Lampung Segera Jebloskan Sekda Lamteng ke Penjara! Bombastis! Pengadaan Kipas Angin Koperasi Merah Putih Rp1,8 Triliun, Kewarasan Pemerintah Dipertanyakan Ditpolairud Polda Jambi Sita 6,8 Ton BBM Tanpa Dokumen di Sungai Batanghari, Dua Orang Jadi Tersangka Amplop Untuk Menteri Kehutanan Raja Juli Diduga Bersumber Dari Hasil Memeras 914 Petani

Headline

Sistem Diskriminasi di SMAN 3 Kota Jambi: Tinggal Kelas Karena Alfa, Tanpa Dibina Dengan Pemanggilan Orang Tua Siswa

badge-check


					Sistem Diskriminasi di SMAN 3 Kota Jambi: Tinggal Kelas Karena Alfa, Tanpa Dibina Dengan Pemanggilan Orang Tua Siswa Perbesar

Dikutip dari laman media www.keizalinNews.web.id –

Jambi – Kasus yang menimpa “Suryanto” (nama samaran), seorang siswa kelas XI di SMA Negeri 3 Kota Jambi, menjadi sorotan serius publik. Meski tergolong pintar, Suryanto tidak mendapat haknya sebagai peserta didik untuk memperbaiki absensinya yang tercatat sebagai alfa. Yang lebih mencengangkan, pihak sekolah mengambil keputusan sepihak untuk menjadikan Suryanto tinggal kelas, tanpa melalui prosedur pembinaan atau komunikasi yang seharusnya dilakukan.

Suryanto berasal dari keluarga yang tidak mampu. Ia kerap tidak masuk sekolah, bukan karena kenakalan atau pelanggaran berat, melainkan karena mengalami perundungan (bullying) dari teman-temannya. Penyebabnya? Ia tidak mampu membayar sejumlah pungutan liar (pungli) yang ditengarai marak terjadi di sekolah tersebut.

Beberapa pungutan yang dibebankan kepada siswa antara lain:

• Pembelian AC untuk ruang kelas: Rp200.000/siswa

• Pungutan Komite: Rp50.000 – Rp290.000 per bulan

• Uang ulang tahun sekolah, uang kas lokal, dan pungutan tidak resmi lainnya

Karena tidak sanggup membayar, Suryanto menjadi korban perundungan, mengalami tekanan mental, hingga takut dan enggan hadir ke sekolah. Sayangnya, tidak ada satupun upaya dari pihak sekolah untuk mencari tahu penyebab ketidakhadiran Suryanto.

Sesuai ketentuan dan etika pendidikan, setiap siswa berhak mendapat pembinaan. Namun dalam kasus ini, pihak sekolah tidak pernah memanggil orang tua Suryanto untuk mencari solusi bersama, seperti pembinaan atau bimbingan konseling. Tanpa ada pemanggilan resmi 1, 2, atau 3 kali, sekolah langsung mengambil keputusan final bahwa Suryanto tinggal kelas—hanya karena catatan alfa.

Saat orang tua mencoba memohon agar anaknya diberi kesempatan memperbaiki absensi, wali kelas dan pihak sekolah menolak. Lebih ironis lagi, saat orang tua meminta surat pindah agar anaknya dapat melanjutkan pendidikan di tempat lain, mereka dipaksa menandatangani surat pernyataan seolah keputusan pindah murni dari pihak orang tua, bukan karena dipaksa oleh situasi.

Pertanyaan Serius untuk SMA N 3 Jambi

• Apakah siswa dari keluarga tidak mampu tidak diberi ruang untuk berkembang di SMA N 3 Jambi?

• Apakah praktik tinggal kelas digunakan sebagai alat untuk “mengosongkan kursi” yang bisa dijual kembali dengan harga tinggi untuk siswa baru?

• Apakah sikap diskriminatif seperti ini dibenarkan dalam dunia pendidikan yang seharusnya adil dan merata?

Kajian Hukum dan Prinsip Pendidikan

1. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional:

Pasal 4 ayat (1): Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif.

Pasal 12 ayat (1): Setiap peserta didik berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai bakat, minat, dan kemampuannya; serta perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

2. Permendikbud No. 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah:

• Melarang penggalangan dana (pungutan) yang bersifat wajib dan memberatkansiswa/orangtua. Komite tidak boleh menetapkan iuran sebagai syarat mutlak dalam proses pembelajaran.

3. Permendikbud No. 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti:

• Menekankan pentingnya pendekatan non-diskriminatif dan humanis dalam menangani siswa bermasalah.

4. Prinsip Mastery Learning:

• Tinggal kelas seharusnya menjadi upaya terakhir, setelah pembinaan intensif, bimbingan konseling, komunikasi dengan orang tua, dan bukan karena faktor administratif semata.

Jika benar Dinas Pendidikan Provinsi Jambi tidak mampu menindak tegas dugaan pelanggaran hak siswa dan praktik pungli di SMA N 3 Kota Jambi, maka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI wajib turun tangan. Pendidikan tidak boleh menjadi ladang diskriminasi dan pemerasan terhadap peserta didik, apalagi yang berasal dari keluarga miskin.

Pendidikan adalah hak konstitusional setiap warga negara. Dalam kasus ini, jelas terlihat adanya pelanggaran serius terhadap:

Hak peserta didik

Prinsip keadilan pendidikan

Prosedur administratif sekolah

Kasus Suryanto adalah potret buram bagaimana sistem pendidikan yang seharusnya melindungi justru melukai. SMA N 3 Jambi harus bertanggung jawab, dan otoritas pendidikan harus segera bertindak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rusak Nama Baik Daerah Kelahiran, Ketum PWDPI Minta Kapolda Lampung Segera Jebloskan Sekda Lamteng ke Penjara!

14 Juli 2026 - 13:22 WIB

Amplop Untuk Menteri Kehutanan Raja Juli Diduga Bersumber Dari Hasil Memeras 914 Petani

13 Juli 2026 - 18:25 WIB

Rumah Anggota Parlemen Irak Digrebek, Dari Sempak Uang Tunai dan Emas Senilai Rp1,03 Triliun Disita

13 Juli 2026 - 16:55 WIB

Pameran “Boru Ni Raja” di ITB: Visualisasi Penghormatan Kepada Perempuan Batak

13 Juli 2026 - 00:37 WIB

Ribuan SHM Masih Terblokir, Warga Jambi Bawa Aspirasi ke DPR RI, Harapkan Kepastian Hukum

12 Juli 2026 - 15:48 WIB

Trending di Headline