Menu

Mode Gelap
Heboh! Zainal Diduga Otak Dibalik Jaringan Distribusi Emas Hasil PETI Sarolangun, APH Dituding Masuk Angin? Prediksi Harga Emas Berpotensi Tembus Level Tinggi, Ini Titik yang Dibidik Parit Tersumbat di Telanaipura, Sampah Meluber ke Jalan, Warga: Sudah Lapor RT & Lurah Namun Tak Ditanggapi Gudang Penimbunan BBM Diduga Milik Sibarani Merajalela: Kasubdit Tipidter Polda Jambi Segera Menindaklanjuti Sekber PSDH Jambi Himbau Waspada Bencana Karhutla 2026 di Provinsi Jambi Polda Jambi Sosialisasikan QR Code Panduan Online Propam Polri Lewat Podcast Live Streaming

Jambi

Heboh! Zainal Diduga Otak Dibalik Jaringan Distribusi Emas Hasil PETI Sarolangun, APH Dituding Masuk Angin?

badge-check


					Heboh! Zainal Diduga Otak Dibalik Jaringan Distribusi Emas Hasil PETI Sarolangun, APH Dituding Masuk Angin? Perbesar

Jambi, 20 April 2026 – elangnusantara.com – Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, terus menjadi sorotan dan berkembang melampaui sekadar persoalan tambang ilegal di tingkat lapangan. Sejumlah temuan dan informasi yang beredar mengarah pada dugaan adanya jaringan terorganisir, mulai dari penambang, pengumpul, hingga jalur distribusi emas ilegal.

Di tengah situasi tersebut, nama Zainal kembali mencuat. Ia disebut-sebut oleh sejumlah sumber sebagai pihak yang diduga berperan dalam menampung emas hasil tambang ilegal, khususnya di wilayah Lubuk Resam. Dugaan ini menjadi perhatian karena mengindikasikan adanya rantai distribusi yang memungkinkan aktivitas PETI terus berjalan.

Berdasarkan penelusuran informasi di lapangan, aktivitas PETI di Batang Asai masih berlangsung di berbagai titik. Penambangan dilakukan menggunakan alat berat dan mesin dompeng, yang memungkinkan produksi emas dalam jumlah signifikan setiap harinya.

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa hasil tambang biasanya langsung disalurkan kepada pihak tertentu.

“Kalau sudah dapat, biasanya langsung ada yang ambil. Kami tidak tahu pasti ke mana, tapi memang ada yang menampung,” ujarnya.

Pola ini memperkuat dugaan bahwa aktivitas PETI tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan terhubung dalam sistem yang terstruktur.

Informasi lebih spesifik disampaikan oleh narasumber berinisial A. Ia menyebut adanya aktivitas pengumpulan emas hasil PETI di wilayah Lubuk Resam sebelum disalurkan ke pihak penampung.

“Di Lubuk Resam itu ada yang bagian menimbang emas dari hasil PETI. Setiap sore, hasilnya disetor ke Zainal,” ungkap sumber A.

Ia juga menambahkan bahwa lokasi yang diduga menjadi pusat aktivitas tersebut bukan hal asing bagi warga sekitar.

“Orang-orang juga tahu toko Zainal yang ada di Lubuk Resam,” tambahnya.

Meski demikian, seluruh keterangan ini masih bersumber dari narasumber dan belum mendapatkan konfirmasi langsung dari pihak yang disebut.

Jika informasi ini benar, maka pola yang terbentuk menunjukkan adanya sistem distribusi yang rapi: dari penambang di lapangan, pengumpul di titik tertentu, hingga penampung utama.

Keberadaan jalur pemasaran seperti ini dinilai menjadi faktor utama yang membuat praktik PETI terus berlangsung, karena hasil tambang memiliki kepastian untuk diserap pasar.

Selain isu penampung, berkembang pula dugaan adanya pihak yang berperan sebagai pelindung aktivitas ilegal tersebut. Dalam informasi yang beredar, muncul penyebutan oknum dengan inisial HSNdan SBRN.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada bukti resmi maupun pernyataan dari pihak berwenang terkait kebenaran dugaan tersebut.

Seorang tokoh masyarakat setempat menilai, maraknya aktivitas PETI yang berlangsung lama tanpa penindakan menyeluruh menimbulkan persepsi negatif.

“Kalau memang tidak ada yang membekingi, harusnya sudah lama berhenti. Ini malah seperti dibiarkan,” katanya.

Sejumlah operasi penertiban memang pernah dilakukan aparat, dengan menangkap pelaku di lapangan. Namun langkah tersebut dinilai belum menyentuh akar persoalan.

Seorang pengamat lingkungan di Jambi menilai pendekatan penegakan hukum masih bersifat parsial.

“Yang ditangkap biasanya pekerja. Sementara jaringan di atasnya jarang tersentuh. Ini yang membuat PETI terus berulang,” ujarnya.

Kondisi ini memunculkan tuntutan agar aparat penegak hukum melakukan penyelidikan lebih mendalam, termasuk menelusuri aliran hasil tambang dan pihak-pihak yang diduga terlibat.

Di balik aktivitas yang terus berlangsung, masyarakat harus menanggung dampak serius. Sungai-sungai di kawasan Batang Asai dilaporkan semakin keruh dan tercemar, sehingga mengganggu kebutuhan air bersih warga.

Selain itu, aktivitas tambang juga meningkatkan risiko bencana seperti longsor dan kecelakaan kerja, yang dalam beberapa kasus bahkan menelan korban jiwa.

Seorang warga menyampaikan kekhawatirannya:

“Kami yang di hilir ini yang kena dampaknya. Air sudah tidak bisa dipakai seperti dulu.”

Situasi ini mendorong meningkatnya desakan publik agar aparat bertindak lebih tegas dan transparan. Tidak hanya menghentikan aktivitas di lapangan, tetapi juga mengungkap jaringan yang diduga berada di baliknya.

Masyarakat berharap, jika memang terdapat keterlibatan pihak tertentu, termasuk oknum aparat, hal tersebut dapat diusut secara terbuka sesuai hukum yang berlaku.

Hingga laporan ini disusun, tim redaksi masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak yang disebut dalam berbagai informasi yang beredar, termasuk Zainal serta inisial HSN dan SBRN.

Namun, belum ada tanggapan resmi yang diterima.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Parit Tersumbat di Telanaipura, Sampah Meluber ke Jalan, Warga: Sudah Lapor RT & Lurah Namun Tak Ditanggapi

20 April 2026 - 07:02 WIB

Gudang Penimbunan BBM Diduga Milik Sibarani Merajalela: Kasubdit Tipidter Polda Jambi Segera Menindaklanjuti

16 April 2026 - 08:57 WIB

Sekber PSDH Jambi Himbau Waspada Bencana Karhutla 2026 di Provinsi Jambi

2 April 2026 - 10:40 WIB

Polda Jambi Sosialisasikan QR Code Panduan Online Propam Polri Lewat Podcast Live Streaming

1 April 2026 - 05:52 WIB

Kegiatan Rutin Masyarakat Peduli Danau Sipin: Potensi Wisata Dikepung 3 Ton Sampah Setiap Hari serta Minimnya Perhatian Pemerintah

30 Maret 2026 - 14:07 WIB

Trending di Jambi