Jambi, 15 Agustus 2026 – elangnusantara.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi kembali menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan. Di tengah puncak musim kemarau, luas lahan yang terbakar telah mencapai sedikitnya 300,12 hektare.
Data tersebut masih bersifat sementara. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi menyebut luasan karhutla berpotensi terus bertambah karena sejumlah lokasi, terutama di Kabupaten Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Timur, masih dalam proses pemadaman dan pendinginan.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, menjelaskan penghitungan luasan belum dapat dilakukan secara menyeluruh sebelum api benar-benar padam dan proses pendinginan selesai.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian berada di Desa Persiapan Air Merah, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi. Kebakaran di kawasan gambut tersebut diperkirakan telah mencapai lebih dari 50 hektare.
Karakteristik lahan gambut membuat penanganan menjadi jauh lebih sulit. Api dapat menjalar di bawah permukaan tanah dan kembali muncul meski kobaran di permukaan telah berhasil dipadamkan. Kondisi tersebut membuat proses pendinginan harus dilakukan secara menyeluruh untuk mencegah api kembali membesar.
Dampak karhutla mulai dirasakan hingga kawasan perkotaan. Dalam beberapa hari terakhir, kabut asap mulai terlihat menyelimuti Kota Jambi.
Meski belum terlalu tebal, keberadaan asap mulai terlihat jelas di langit dan aroma asap juga mulai tercium oleh masyarakat.
Namun, BPBD Jambi mengingatkan bahwa asal kabut asap tidak bisa serta-merta dikaitkan hanya dengan kebakaran yang terjadi di wilayah Provinsi Jambi.
Pergerakan asap sangat dipengaruhi arah dan kecepatan angin. Kebakaran di wilayah perbatasan, termasuk kawasan Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa karhutla di wilayah Sumatera bagian selatan tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan yang berdiri sendiri berdasarkan batas administratif. Asap dapat bergerak lintas wilayah mengikuti kondisi atmosfer.
Ancaman karhutla di Jambi masih cukup tinggi karena wilayah ini tengah memasuki periode kemarau. Bahkan, penanganan di sejumlah lokasi masih terus dilakukan oleh tim gabungan melalui operasi darat dan udara.
Gubernur Jambi Al Haris sebelumnya juga mengajak masyarakat, ulama, kiai hingga imam masjid untuk melaksanakan salat istisqa sebagai ikhtiar meminta hujan di tengah kondisi kemarau dan ancaman karhutla.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga mulai memperhatikan dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat. Pemprov Jambi mempertimbangkan langkah antisipasi, termasuk imbauan penggunaan masker dan kemungkinan penyesuaian kegiatan pendidikan apabila kualitas udara semakin memburuk.
Pemadaman memang penting, tetapi pencegahan harus menjadi prioritas. Sebab ketika api telah membesar dan asap mulai masuk ke ruang hidup masyarakat, biaya sosial, ekologis dan kesehatan yang harus ditanggung akan jauh lebih besar.
Karhutla bukan sekadar persoalan api. Ia adalah persoalan tata kelola lingkungan yang membutuhkan tindakan serius sebelum setiap musim kemarau kembali berubah menjadi musim asap.











