Sarolangun, 30 Agustus 2026 – elangnusantara.com — Hujan deras kembali menguji ketangguhan warga Kabupaten Sarolangun. Luapan Sungai Batang Asai merendam sejumlah permukiman di Kecamatan Batang Asai dan Kecamatan Batin VIII pada Minggu (26/4/2026) dini hari.
Air dengan ketinggian mencapai sekitar 50 hingga 100 sentimeter masuk ke rumah-rumah warga dan menghambat aktivitas masyarakat. Banjir tersebut dilaporkan berdampak pada sejumlah desa di dua kecamatan.
Di Kecamatan Batang Asai, wilayah terdampak meliputi Desa Batu Empang, Simpang Narso, Tambak Ratu, Bathin Pengambang, Sungai Keradak, Muara Air Dua, Rantau Panjang, Pulau Salak Baru, Pekan Gedang, dan Raden Anom.
Sementara di Kecamatan Batin VIII, banjir melanda Desa Tanjung Gagak, Muara Lati, Rantau Gedang Dusun Seberang, Pulau Buayo, dan Teluk Kecimbung.
Di tengah kepungan air, personel Polsek Batang Asai dan Polsek Batin VIII bersama Tim Siaga Bhayangkara Polres Sarolangun bergerak ke sejumlah titik terdampak.
Petugas membantu proses evakuasi, terutama terhadap anak-anak dan lansia. Polisi juga membantu warga yang kendaraannya mogok akibat terendam genangan.
Kapolres Sarolangun AKBP Wendi Oktariansyah melalui Kabag Ops Kompol Angga Luviyanto mengatakan, banjir terjadi akibat meluapnya Sungai Batang Asai setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut.
Meski air sempat mencapai satu meter, kondisi dilaporkan mulai membaik setelah hujan berhenti dan debit sungai berangsur turun.
Namun, personel kepolisian tetap disiagakan untuk membantu masyarakat apabila kondisi kembali memburuk.
Hingga laporan tersebut diterbitkan, belum ada laporan korban jiwa maupun warga yang harus mengungsi. Namun, kerugian materiil masih dalam pendataan.
Sejumlah peralatan elektronik milik warga dilaporkan rusak akibat terendam air.
Kondisi tersebut kembali menunjukkan bahwa bagi masyarakat yang tinggal di kawasan aliran sungai, hujan deras bukan sekadar persoalan cuaca. Ketika sungai meluap, ruang hidup warga ikut dipertaruhkan.
Bantuan darurat tentu penting. Kehadiran aparat di tengah masyarakat juga patut diapresiasi. Tetapi, setiap banjir semestinya tidak berhenti sebagai agenda evakuasi setelah air datang.
Sebab, ketika air sudah masuk ke rumah warga, pertanyaan yang muncul bukan hanya siapa yang datang membawa bantuan, tetapi juga mengapa risiko banjir terus berulang dan sejauh mana upaya pencegahannya dilakukan sebelum air meluap.
Kepolisian mengingatkan warga agar tetap waspada terhadap kemungkinan perubahan kondisi debit sungai.
Masyarakat juga diminta tidak menyalakan listrik maupun perangkat elektronik sebelum memastikan kondisi benar-benar aman guna menghindari risiko tersengat listrik.
Untuk keadaan darurat, masyarakat dapat menghubungi layanan Call Center Polri 110.
Banjir mungkin surut dalam hitungan jam atau hari. Namun bagi warga yang rumahnya terendam, kerusakan barang, terganggunya aktivitas, hingga ancaman keselamatan meninggalkan persoalan yang jauh lebih panjang.
Air boleh surut, tetapi kewaspadaan dan evaluasi tidak boleh ikut hanyut.











